HMI Samarinda Kecewa Tuntutan BBM Tak Dijawab, Pertamina Sebut Data Kuota Rahasia

ETAMVOICE.ID, Samarinda – Aksi demonstrasi yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Samarinda terkait persoalan kelangkaan serta tata kelola distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kota Samarinda berakhir tanpa kesepakatan antara mahasiswa dan pihak PT Pertamina Patra Niaga. Rabu, 7/10/2026

Ketua Umum HMI Cabang Samarinda, Fawwaz, menyampaikan kekecewaan mendalam atas sikap manajemen Pertamina yang dinilai belum memberikan jawaban transparan terkait krisis BBM yang berdampak langsung pada masyarakat.

“Hasilnya nihil, kami kecewa ternyata Pertamina tidak bisa menjawab persoalan masyarakat,” ujar Fawwaz usai aksi.

Fawwaz mengungkapkan, poin utama tuntutan HMI Cabang Samarinda adalah transparansi skema penyaluran BBM dari PT Pertamina Patra Niaga ke seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Samarinda, beserta variabel penentuan alokasi kuota BBM untuk wilayah Kalimantan Timur. Namun hingga aksi berakhir, mahasiswa mengaku belum menerima data transparansi yang diminta.

“Tidak ada,” tegas Fawwaz saat dikonfirmasi mengenai keberadaan data transparansi distribusi tersebut.

Atas kebuntuan tersebut, HMI Cabang Samarinda melayangkan ultimatum batas waktu 3×24 jam kepada PT Pertamina Patra Niaga untuk membuka data dan memenuhi tuntutan mereka.

“Kami memberikan ultimatum 3×24 jam agar Pertamina bisa memenuhi tuntutan kami. Jika tidak ada tindak lanjut, kami siap menentukan langkah pengawalan berikutnya demi memperjuangkan hak masyarakat Samarinda,” tegasnya.

Di sisi lain, Sales Branch Manager Kaltimtara I PT Pertamina Patra Niaga, Hasanuddin Ritonga, membenarkan telah menemui massa aksi dan berdiskusi mengenai keluhan ketersediaan BBM. Menanggapi tuntutan pembukaan data kuota dan jatah distribusi, Hasanuddin menjelaskan bahwa informasi tersebut bersifat rahasia.

“Soal permintaan data, data kuota atau jatah itu kan sifatnya rahasia ya, konfidensial. Jadi tidak semua orang atau sembarang pihak bisa mendapatkan data tersebut,” terang Hasanuddin Ritonga usai menemui massa aksi.

Selain itu, Hasanuddin turut menjelaskan pemicu terjadinya antrean kendaraan di SPBU yang belakangan dikeluhkan masyarakat. Menurutnya, perbedaan harga (disparitas) antara BBM bersubsidi dan non-subsidi menjadi faktor utama melonjaknya konsumsi BBM subsidi seperti Pertalite.

“Kenaikan penyaluran Pertalite yang kami catat mencapai kurang lebih 9,6 persen dari periode Juni sampai sekarang. Pasokan terus disalurkan ke masyarakat, namun perbedaan harga antara BBM subsidi dan non-subsidi memang menjadi faktor utama meningkatnya antrean di SPBU,” pungkasnya. (Ra)

Aksi demonstrasi HMI Samarinda di depan PT Pertamina Patra Niaga Kota Samarinda.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *